Senin, 19 April 2010

Daur Ulang Sampah Organik dan Anorganik

E-mail Cetak PDF
Sampah barangkali selama ini bagi kabanyakan orang hanya menjadi limbah yang tidak bermanfaat dan dibuang begitu saja, Namun tidak demikian halnya bagi SMA N 1 Tembilahan Hulu yang mengelola dan mendaur ulang sampah menjadi sesuatu yang mempunyai nilai guna.
Seperti halnya sampah jenis organik diolah oleh siswa-siswi SMA N 1 Tembilahan Hulu menjadi kompos yang bahkan pembuatan kompos ini adalah salah satu mata pelajaran muatan lokal yang termasuk dalam kurikulum.
Tidak hanya sampah organik yang dijadikan kompos tapi juga sampah anorganik yang dijadikan keterampilan tangan seperti bunga hiasan meja dari pelastik, kertas koran, botol air mineral, lampu hias dan lainnya selain itu juga membuat sekam bakar yang digunakan untuk karbonisasi tanaman. Kesemuan yang dilakukan ini dilakukan juga dalam rangka mendukung program Pemerintah dalam menciptakan kebersihan dikota Tembilahan untuk meraih Adipura.



Pengelolaan sampah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Tong sampah biru di Berkshire, Inggris

Pengelolaan sampah adalah pengumpulan , pengangkutan , pemrosesan , pendaur-ulangan , atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yg dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam . Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat , cair , gas , atau radioaktif dengan metoda dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat.

Praktek pengelolaan sampah berbeda beda antara Negara maju dan negara berkembang , berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan , berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yg tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah.

Metode pengelolaan sampah berbeda beda tergantung banyak hal , diantaranya tipe zat sampah , tanah yg digunakan untuk mengolah dan ketersediaan area.

Minggu, 18 April 2010

Memisahkan Sampah Organik – Non Organik Mulai dari Rumah Sendiri

Seperti yang sudah aku sampaikan pada posting-posting sebelumnya bahwa sortasi sampah warga adalah pekerjaan paling menyusahkan(coba lihat di sini). Oleh karena itu cara terbaik yang mudah dilakukan adalah dengan memisahkan sampah sejak pertama kali sesuatu berubah menjadi sampah. Jadi sampah organik dibuang ditempat sampah organik, sampah plastik dibuang di tempat sampah plastik, sampah kertas dibuang di tempat sampah kertas, demikian seterusnya. Upaya ini bukanlah sesuatu yang mudah. Sebenarnya apa sih susahnya membuang sampah sesuai tempatnya. Mudah. Yang susah adalah membiasakan diri atau lebih tepatnya memaksakan diri untuk melakukan hal itu.


Link terkait: Mengelola Sampah Warga

Aku mencoba mulai dari diriku sendiri. Dalam Islam dikenal dengan ibda’ bi nafsi, mulai dari diri sendiri. Lalu orang-orang di sekitarku, keluargaku sendiri. Awalnya agak sulit juga meyakinkan istriku untuk memisahkan sampah menjadi dua kelompok saja: organik – non organik. Lama-lama bisa juga. Kemudian mengajari anak-anakku. Ini lebih mudah daripada meyakinkan istriku, karena aku bisa menggunakan ‘power’-ku sebagai ‘Abi’. Aku bilang, sampah ini dibuang di sini, maka anak-anak akan menurutinya. Mula-mula harus diberi tahu terus, tetapi lama-lama menjadi kebiasaan dan mereka sudah pada tahu sendiri. (lihat di sini). Aku belum mengolah sampah organikku sendiri, baru memisahkannya saja. Ini pun masih banyak yang harus dibenahi di rumahku sendiri. Tidak mengapa, paling tidak ini sudah merupakan awal yang bagus.

pisah sampah

Bulan Maret 2008 aku mudik ke rumah orang tuaku di Magelang. Hal pertama yang menarik perhatianku adalah masalah sampah. Orang tuaku tidak banyak berbeda dengan orang-orang kebanyakan, buang sampah di bak sampah di rumah. Tetapi buang kantong sampahnya di sungai belakang rumah. Ampun deh….

dam tempat membuang sampah
DAM yang juga merangkap tempat pembuangan sampah.

DAM ini jadi tempat pembuangan sampah warga. Perhatikan masih ada orang yang membuang sampah di sini, ada bekas sampah di dasar dam itu.

Aku coba memberi pengertian pada orang tuaku. Rasanya aku lebih mudah meyakinkan orang lain dari pada orang tuaku sendiri. Aku jelaskan semua yang aku tahu dan aku bisa. Aku ngak tahu apakah kata-kataku bisa masuk ke pikiran orang tuaku atau tidak. Bagiku aku sudah melakukan kewajibanku: mencoba meyakinkan orang lain untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Nah…kebetulan kampungku menjadi percontohan untuk pengolahan sampah warga. Kelurahan menyediakan tong sampah sesuai dengan kelompoknya. Lalu sampah organiknya dibuat kompos. Aku mendengarkan ini dari adikku yang jadi ketua remaja di kampung. Aku tidak banyak komentar, karena waktuku sedikit. Tetapi dari apa yang aku lihat banyak yang belum dilaksanakan dengan benar. Pengomposan itu tidak berhasil.

Sambil lalu aku menjelaskan apa yang aku tahu pada adikku.

tong sampah warga

Tiga tong sampah untuk tiga macam sampah: organik, plastik, dan kertas. Belum berfungsi dengan baik.

Dua bulan berlalu, aku mampir lagi ke rumah. Perhatianku masih sama: sampah di rumah. Aku belum sempat tanya, Bapakku sudah cerita duluan. Pertama: dia sudah membuat lubang di kebun di seberang sungai. Lubang-lubang ini untuk membuang sampah organik biar jadi kompos, katanya. Lalu aku lihat banyak sekali kantong plastik bergelantungan di berisi plastik dan kertas. Bapakku menjelaskan, kalau sekarang dia selalu mengumpulkan sampah-sampah plastik dan kertas di kantong plastik sendiri.

Sambil menyelidik aku bertanya lagi, ” Kenapa tidak dibuang saja ke tong-tong sampah khusus yang di depan rumah itu, Pak?”

kantong sortasi sampah

kantong sampah warga

kantong sampah warga

Orang tuaku dan saudaraku mengumpulkan sampah di kantong-kantong plastik ini.

Alasannya, di tong sampah itu masih campur aduk. Walaupun sudah dikelompokkan, tetapi warga masih mencampur sampahnya. Jadi Bapak lebih memilih mengumpulkan sampah di rumah sendiri. Ketika sudah saatnya sortasi sampah, kantong-kantong plastik penuh sampah itu baru diberikan pada petugasnya. Hebat juga pikirku…..

Ini luar biasa pikirku…., karena seingatku aku tidak pernah meminta atau mengajari orang tuaku tentang hal ini.




Sampah??? ”Ayo buang pada tempatnya…”

Sampah merupakan barang yang tidak terpakai atau sisa atau residu baik secara langsung maupun tidak langsung berasal dari aktivitas manusia dan alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Secara garis besar sampah dihasilkan dari beberapa sumber antara lain:
1. Sampah dari pemukiman,
2. Sampah dari industri/pabrik,
3. Sampah dari tempat publik.

Sampah terdiri dari tiga jenis:
1. Sampah organik
2. sampah non-organik
3. sampah berbahaya/beracun

Masalah sampah merupakan masalah yang sangat pelik dan kompleks bahkan terkadang menjadi masalah yang besar apabila kita tidak arif untuk memecahkan persoalan tersebut.

Sebagai ilustrasi,
1. misalkan dalam 1 hari kita membuang satu kantung plastik bekas ke selokan/pinggr sungai, pernahkah kita pikir apa yang terjadi kalau dalam satu bulan saja kita membuang kantung plastik tersebut ketempat yang sama? Pernahkah kita berpikir kalau ada beberapa teman kita atau bahkan banyak yang membuang benda yang sama ke tempat yang sama dan secara bersamaan pula? Apakah yang akan terjadi ditempat tersebut apabila kantung plastik tersebut tidak ada yang membersihkannya atau dibiarkan begitu saja.
2. misalkan di dalam satu ruangan berukuran 20 x 20 m2 cuma ada 1 diantara 300 orang yang merokok, tentunya kita beranggapan asapnya tidak akan mengganggu. Tetapi apabila yang merokok tersebut bertambah menjadi 30 orang, atau 100 orang atau bahkan semuanya merokok secara bersamaan, apakah yang akan terjadi? Masih nyaman kah?

Beberapa anggapan yang terkadang muncul dari pikiran kita antara lain:
1. apa yang kita buang hanya sedikit
2. tidak ada orang lain disekitar kita yang melakukan hal yang sama.
3. apa yang kita perbuat tidak akan membahayakan orang lain atau lingkungan
4. ”dia kan digaji untuk pekerjaannya itu, kenapa harus membantunya”
5. ”itu bukan pekerjaan kita” atau ”ada orang lain yang mengurusinya”

Permasalahan sampah sebenarnya dapat lebih disederhanakan apabila semua pihak mau peduli, berfikir dan berkomitmen untuk menyelesaikannya. Permasalahan tidak akan selesai dengan sendirinya tanpa ada tindakan yang serius dari kita sendiri.

Untuk permasalahan yang besar, sebaiknya dilihat dahulu peluang untuk menyelesaikannya dari tingkatan yang lebih kecil. karena cenderung permasalahan yang besar merupakan akumulasi dari berbagai permasalahan yang kita anggap kecil seperti yang saya ilustrasikan diatas.

Pemilahan jenis-jenis sampah

Kita semua tentunya tahu apa yang kita beli, apa yang kita makan dan apa yang harus kita buang. Begitu pula dengan sampah yang akan kita buang. Untuk rumah tangga alangkah baiknya kalau kita menyediakan beberapa tempat seperti kotak sampah atau kantung plastik, kemudian ”buanglah sampah pada tempatnya” sesuai dengan jenisnya. Mungkin bagi kita terlalu repot untuk menyediakan 3 jenis kotak sampah atau 3 buah kantung plastik yang kita beri tanda untuk masing-masing jenis sampah seperti sampah organik, sampah kertas dan sampah logam dan plastik. Tetapi apabila dilihat dari manfaatnya kedepan mungkin akan berbeda pandangan kita nantinya.

Karena budaya pemilahan/pemisahan sampah ini belum populer di Indonesia, maka perlu sosialisasi dan juga diperlukan kesadaran dari masing-masing individu untuk dapat melaksanakannya.

Tiga Langkah pengelolaan sampah :

I. Pengelolaan sampah dimulai dari tingkat rumah tangga
Sampah yang dihasilkan setiap rumah tangga tentunya tidak akan jauh berbeda, untuk itu yang perlu dilakukan adalah memisahkan antara sampah organik dan sampah non-organik.
1. Sampah organik, dapat dibuat pupuk tanaman atau kompos, bau tidak akan ada apabila dikelola dengan benar.
Kompos yang dihasilkan dapat dipakai sendiri atau dapat dijual.
2. Sampah non-organik, dipisahkan menjadi:
a. sampah yang laku dijual seperti kertas, kardus, botol air mineral, besi.
b. sampah yang tidak laku dijual seperti kantung plastik/keresek, styrofoam, dll.

Catatan : cara ini lebih cocok untuk warga yang mempunyai perkarangan rumah; dan atau berminat untuk mengelola sampahnya sendiri.

II. Pengelolaan sampah pada tingkat TPS
Apabila masyarakat tidak dapat mengelola sampahnya sendiri ditingkat rumah tangga, penyelesaian dapat dilakukan di TPS/TPA. Yang paling utama, setidaknya warga dapat memilah sampahnya seperti ketiga langkah pemilahan diatas tanpa melakukan pengelolaan. Sampah-sampah tersebut kemudian akan diambil oleh petugas kebersihan ke TPS untuk dikelola sesuai dengan kemampuan TPS tersebut. Sebagai kompensasi pada warga yang telah mau memilah sampahnya, warga tersebut dibebaskan dari restribusi sampah.

Pengelolaan sampah di TPS ini akan menjadi lebih mudah karena sebelumnya telah dipilah oleh warga. Cukup dengan menyediakan tempat yang mendukung untuk melakukan pengelolaan dengan cara yang sama seperti langkah I diatas. Hanya saja pemilahan dilakukan secara detail agar diperoleh jenis yang sama terutama sampah yang laku dijual. Sampah organik seluruhnya dapat dibuat kompos. Sampah yang laku dijual, dijual pada pengepul atau ke tempat daur ulang. Sedangkan untuk sampah non-organik yang tidak dapat dipergunakan atau tidak laku dijual, maka sampah tersebut diangkut untuk dibuang ke TPA.

Catatan : TPS ini pengelolaan dapat dilakukan bagi daerah/warga yang akan melakukan pengelolaan sampah secara swakelola dan sebaiknya mempunyai tim khusus yang menangani pengelolaan sampah.

III. Pengelolaan sampah pada tingkat TPA
Di TPA, cara yang sama juga dapat dilakukan seperti pengelolaan sampah di TPS, khususnya untuk daerah yang tidak mempunyai TPS atau sampah yang langsung dibuang ke TPA.
Khusus pengelolaan sampah di TPA, sampah yang tidak dapat dikelola dimusnahkan dengan cara diurug atau dengan metode lainnya yang lebih ramah lingkungan. Dengan demikian kita dapat meminimalkan penggunaan lahan TPA yang semakin langka.

Namun, Perlu diingatkan kembali… semua ini tidak akan berhasil apabila tidak ada kemauan dan kesadaran kita. Banyak orang yang pesimis dan bertanya akankah permasalahan ini bisa diselesaikan? Kalau kita terus bertanya dengan nada pesimis dan tidak ada ide atau tindakan untuk penyelesaiannya, atau bahkan bisanya cuma mengkritik untuk menyudutkan tanpa memberikan solusi, kapan kita akan berhasil?

Pertama, cukup kita sadarkan diri kita bahwa kita perlu menjaga kebersihan diri, rumah, lingkungan kita dengan membuang sampah pada tempatnya. Apabila kita telah mulai dari yang kecil, dari diri sendiri, insya Allah kita dapat menyadarkan semua orang akan pentingnya kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya sekaligus dapat menyelesaikan permasalahan yang dianggap rumit ini.

Demikian hanya ini saja yang dapat saya sumbangkan, mungkin masih banyak lagi ide-ide atau saran dari teman-teman dengan permasalahan sampah di daerahnya serta solusinya. Terima kasih. Mohon maaf atas segala kekurangannya. Wassalam. (wk,2007)